Malam ini, anakku Zhafira gatal-gatal. Entah karena gigitan nyamuk atau tungau yang memang sering ada di kasur kami.
Beberapa kali aku menegurnya karena ia terus menggaruk sambil menangis seperti orang yang sedang mengigau. Ia masih saja menangis sambil mengeluhkan rasa gatalnya. Hingga akhirnya, aku sedikit membentaknya.
Aku sedih...
Aku membentaknya bukan karena ia salah, tetapi mungkin karena ada rasa lelah dan kecewa dalam diriku sendiri. Aku marah pada keadaan, pada diriku yang belum mampu memberikan tempat bernaung terbaik untuk anak-anakku.
Kami berempat tidur di sebuah kamar berukuran kira-kira 2,25 x 2,25 meter. Aku tidak tahu ukuran pastinya, hanya memperkirakan saja.
![]() |
| Gambar hanya pemanis |
Kamar ini lembap, tidak ada jendela sehingga tidak ada udara segar yang masuk. Tungau sering datang dan membuat kami tidak nyaman. Bukan hanya lembap, kamar ini juga terlalu sempit untuk kami berempat. Bahkan untuk sekadar mengubah posisi tidur pun rasanya sulit.
Tak jarang tubuhku terasa sakit saat bangun tidur. Suamiku pun beberapa kali memilih tidur di kursi ruang tamu agar bisa mendapatkan istirahat yang lebih baik.
Kadang, hal-hal seperti ini membuatku diam-diam menangis. Bukan karena tidak bersyukur dengan apa yang kami punya, tetapi ada banyak hal yang ingin sekali bisa aku berikan untuk anak-anak.
Semoga Allah mudahkan langkah suamiku untuk bisa memiliki rumah impian kita. Rumah yang lebih layak, lebih nyaman, tempat anak-anak bisa tidur dengan tenang tanpa harus merasa kepanasan, kegerahan, atau gatal-gatal.
Untuk malam ini...
"Maafin Ibuk ya, Nak."
Dan air mataku kembali tumpah.










































